Kata dasar peran disertai dimbuhan -an dalam peranan bisa diartikan sebagai bagian yang dimainkan seorang pemain (dalam film, sandiwara, dan sebagainya). Definisi lainnya ialah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Ketika kita berbicara tentang sebuah peranan, bahasan yang muncul kemudian adalah siapa pemerannya. Pemeran ialah orang yang memerankan sesuatu dalam film, sandiwara, dan sebagainya. Dapat juga diartikan sebagai orang yang menjalankan peranan tertentu dalam suatu peristiwa.
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia harus siap memainkan peran sebagai pasangan dari orang yang akan dinikahinya juga bersiap untuk berperan sebagai orangtua. Bagi sang istri, ia akan mengandung (normalnya sekitar 9 bulan), melihat dirinya semakin gemuk dari hari ke hari seiring perkembangan kandungan di dalam perutnya. Ia perlahan-lahan harus menomorduakan penampilannya, meninggalkan celana jeans ketat, hot pants, dress ketat, dan pakaian lainnya yang tidak lazim digunakan seorang wanita ketika sedang mengandung. Setelah itu ia akan melahirkan, berjuang dan bersakitan demi kelahiran sang buah hati ke dunia. Tak lama kemudian istri dan suami akan disibukkan dengan tangisan anaknya di waktu-waktu tidak terduga. Kalau boleh berandai-andai mungkin para orangtua mendambakan fitur snooze pada si anak layaknya sebuah alarm. Berharap ada waktu istirahat lebih ketika mereka masih kelelahan untuk terbangun di pagi buta.
Di tahun 2009 kita semua familiar dengan acara EMPAT MATA yang dipandu oleh Tukul Arwana sebagai hostnya. Jargon-jargon khasnya tentu masih kita ingat sampai sekarang, dari yang terdengar norak saat pertama kali mendengarnya sampai akhirnya kita bawa dalam candaan sehari-hari. Saya sempat terheran-heran ketika membaca sebuah artikel yang membahas honor (gaji) Tukul di acara talkshow tersebut. Tidak kurang dari 30 juta dia dibayar untuk melawak (dalam beberapa episode kata-kata yang keluar semaunya saja tetap memancing gelak tawa penonton) selama kurang lebih 2 jam. Miris bila saya bandingkan dengan honor kerja saya jika dihitung tiap 2 jam.
Belakangan saya berpikir kenapa ia bisa dibayar semahal itu karena tak peduli seburuk apapun suasana hatinya dan pikiran di kepalanya saat ia berada di depan laptop andalannya, ia harus membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Sampai menangis dan sakit perut kalau bisa. Sama halnya dengan aktor hollywood yang dibayar mahal untuk memainkan peran tertentu di sebuah film. Watak si tokoh yang diperankannya mungkin berbanding terbalik dengan watak aslinya. Ia yang pendiam harus berteriak-teriak dalam beberapa scene, ia yang urakan harus bersikap kalem layaknya orang paling cool sejagat raya, ia yang jenius harus menjadi orang paling bodoh (jika tidak boleh dibilang idiot). Pasti kita tahu betul bagaimana hebatnya akting seorang aktor/aktris hollywood dalam film-film yang ia bintangi. Semuanya demi satu tujuan, penonton yang menyaksikannya bisa terbawa suasana dan melibatkan emosi saat menonton film tersebut.
Sebulan ke belakang saya tidak pernah menyangka peran ini akan saya mainkan. Tidak ada tawaran kontrak dari production house ataupun casting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba saja peran ini datang. Semenjak kepulangan papa saya dari rumah sakit pasca serangan stroke, saya merasa peran ini begitu berat. Saya belajar mengenalkannya popok dewasa selama ia bedrest, sama persis ketika ia mengenalkan saya popok bayi ketika masih kecil. Terkadang saya terbangun di pagi buta mendengar ia mengoceh atau mengigau dan berusaha untuk menemaninya sampai tertidur kembali. Paksaan untuk meminum obat dalam jumlah tidak sedikit juga saya lakukan, mirip saat saya berlarian kesana kemari ketika disuruh minum obat olehnya. Tapi sekarang posisinya terbalik. Banyak peranan lainnya yang baru saya mainkan dan pelajari. Tidak seperti Tukul atau artis hollywood yang dibayar mahal setiap memainkan peran, saya justru melakukannya tanpa bayaran. Masih berusaha belajar berbakti kepada orangtua disaat kesempatan ini masih ada dan ditawarkan oleh-Nya. Saya yakin dan percaya pemeran yang baik ialah dia yang bisa memainkan peranannya dalam kondisi sesulit dan setidakterduga apapun.
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia harus siap memainkan peran sebagai pasangan dari orang yang akan dinikahinya juga bersiap untuk berperan sebagai orangtua. Bagi sang istri, ia akan mengandung (normalnya sekitar 9 bulan), melihat dirinya semakin gemuk dari hari ke hari seiring perkembangan kandungan di dalam perutnya. Ia perlahan-lahan harus menomorduakan penampilannya, meninggalkan celana jeans ketat, hot pants, dress ketat, dan pakaian lainnya yang tidak lazim digunakan seorang wanita ketika sedang mengandung. Setelah itu ia akan melahirkan, berjuang dan bersakitan demi kelahiran sang buah hati ke dunia. Tak lama kemudian istri dan suami akan disibukkan dengan tangisan anaknya di waktu-waktu tidak terduga. Kalau boleh berandai-andai mungkin para orangtua mendambakan fitur snooze pada si anak layaknya sebuah alarm. Berharap ada waktu istirahat lebih ketika mereka masih kelelahan untuk terbangun di pagi buta.
Di tahun 2009 kita semua familiar dengan acara EMPAT MATA yang dipandu oleh Tukul Arwana sebagai hostnya. Jargon-jargon khasnya tentu masih kita ingat sampai sekarang, dari yang terdengar norak saat pertama kali mendengarnya sampai akhirnya kita bawa dalam candaan sehari-hari. Saya sempat terheran-heran ketika membaca sebuah artikel yang membahas honor (gaji) Tukul di acara talkshow tersebut. Tidak kurang dari 30 juta dia dibayar untuk melawak (dalam beberapa episode kata-kata yang keluar semaunya saja tetap memancing gelak tawa penonton) selama kurang lebih 2 jam. Miris bila saya bandingkan dengan honor kerja saya jika dihitung tiap 2 jam.
Belakangan saya berpikir kenapa ia bisa dibayar semahal itu karena tak peduli seburuk apapun suasana hatinya dan pikiran di kepalanya saat ia berada di depan laptop andalannya, ia harus membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Sampai menangis dan sakit perut kalau bisa. Sama halnya dengan aktor hollywood yang dibayar mahal untuk memainkan peran tertentu di sebuah film. Watak si tokoh yang diperankannya mungkin berbanding terbalik dengan watak aslinya. Ia yang pendiam harus berteriak-teriak dalam beberapa scene, ia yang urakan harus bersikap kalem layaknya orang paling cool sejagat raya, ia yang jenius harus menjadi orang paling bodoh (jika tidak boleh dibilang idiot). Pasti kita tahu betul bagaimana hebatnya akting seorang aktor/aktris hollywood dalam film-film yang ia bintangi. Semuanya demi satu tujuan, penonton yang menyaksikannya bisa terbawa suasana dan melibatkan emosi saat menonton film tersebut.
Sebulan ke belakang saya tidak pernah menyangka peran ini akan saya mainkan. Tidak ada tawaran kontrak dari production house ataupun casting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba saja peran ini datang. Semenjak kepulangan papa saya dari rumah sakit pasca serangan stroke, saya merasa peran ini begitu berat. Saya belajar mengenalkannya popok dewasa selama ia bedrest, sama persis ketika ia mengenalkan saya popok bayi ketika masih kecil. Terkadang saya terbangun di pagi buta mendengar ia mengoceh atau mengigau dan berusaha untuk menemaninya sampai tertidur kembali. Paksaan untuk meminum obat dalam jumlah tidak sedikit juga saya lakukan, mirip saat saya berlarian kesana kemari ketika disuruh minum obat olehnya. Tapi sekarang posisinya terbalik. Banyak peranan lainnya yang baru saya mainkan dan pelajari. Tidak seperti Tukul atau artis hollywood yang dibayar mahal setiap memainkan peran, saya justru melakukannya tanpa bayaran. Masih berusaha belajar berbakti kepada orangtua disaat kesempatan ini masih ada dan ditawarkan oleh-Nya. Saya yakin dan percaya pemeran yang baik ialah dia yang bisa memainkan peranannya dalam kondisi sesulit dan setidakterduga apapun.