Jumat, 13 April 2018

Seragam Baru dan Euforia yang Ditawarkannya


Istilah euforia merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris "euphoria". Secara etimologi "euphoria" berasal dari kata "euphoros" dalam bahasa Yunani yang berarti 'sehat', atau 'keadaan yang secara fisik dihayati sebagai sesuatu yang menyenangkan' atau 'keadaan emosi gembira yang berlebihan'. Dalam pengalamannya, seragam seringkali menawarkan euforia dalam takaran yang berbeda-beda. Saya masih ingat ketika pertama kali mengenakan seragam putih abu-abu yang saat itu terlihat (dan memang) kebesaran - karena ada hukum tidak tertulis untuk membeli seragam baru satu size lebih besar demi masa pakai yang lebih lama - sambil berjalan (merasa) bangga dengan balutannya. Banyak hal ditawarkannya mulai dari teman baru, uang jajan yang lebih banyak, kebebasan lebih (saat itu memang saya berharap banyak) sampai 'warna-warni' masa SMA yang katanya masa-masa paling indah. Dalam sudut pandang yang lain, seragam menggambarkan sebuah kesetaraan si pemakainya. Selama kita memakai seragam yang sama, selama itu pula lah kita 'sama'.

Memasuki masa kuliah, pemakaian seragam sudah tidak lagi berlaku. Kebebasan ditawarkan kepada masing-masing individu untuk membentuk dirinya sesuai apa yang dia sukai. Umumnya celana jeans dan kaos jadi seragam favorit bagi mahasiswa/i. Namun dalam sebuah pertandingan sepakbola yang pernah saya ikuti saat kuliah, seragam (jersey) yang dipakai haruslah sama. Dan di saat seperti itu, lagi-lagi seragam menawarkan euforianya. Eksistensi, kemenangan, dan kemudian juara. Tapi euforia tetaplah euforia semata, ia tidak pernah menetap lama dan memuaskan kami (si penikmat) secara terus-menerus. Ia datang untuk kemudian pergi dalam rentang waktu tertentu.

Waktu terus berjalan dan jersey itu kami simpan rapi di dalam almari, persis seperti dunia yang seakan menyimpan euforia yang dulu seringkali muncul. Tidak lagi kami temukan tawaran eksistensi, kemenangan dan juara yang dulu kami cari-cari.  Tapi siapa yang tahu rencana waktu? Lewat seragam lain kami dipertemukan kembali dengan si penikmat-penikmat itu, kali ini dengan balutan dan momen yang jauh berbeda dibandingkan saat kami mengenakan jersey waktu itu.


 

 
Kami tahu persis euforia yang ditawarkan kali itu paling lama berlangsung dua sampai tiga hari saja, tapi siapa yang peduli? Kami tidak pernah berpikir dan menghitung kapan ia akan datang dan pergi lagi, kami hanya ingin menikmatinya saja. Untuk seragam lain yang akan datang nantinya, kami siap menikmatimu euforia!!!

Sabtu, 23 September 2017

Saya, Mueller, dan Para Penafsir Ruang Lainnya


Thomas Mueller
Thomas Mueller tidak berlari dan menggiring bola secepat dan selincah Messi, posturnya juga tidak sekekar Ronaldo, pun dengan penampilannya yang jauh dari kesan flamboyan atau parlente. Tanpa balutan jersey sepakbola, dirinya lebih mirip mahasiswa semester menengah. Ketika ditanya mengenai cara bermainnya di lapangan, ia menjawab dengan sangat baik. Dalam wawancara dengan wartawan dari Sueddeutsche Zeitung, Andres Burkert, pada Januari 2011 silam, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang raumdeuter. Dalam nomenklatur Jerman, istilah tersebut lazim digunakan di bidang desain interior. Secara harafiah, raumdeuter berarti space interpreter (penafsir ruang), atau kadang juga disebut space investigator (penyelidik ruang). Raumdeuter memang sangat pas disematkan kepada Mueller jika kita melihat gol-gol yang dilesakannya dalam sebuah pertandingan. Alih-alih menciptakan atau mengkreasikan peluang, ia lebih sering terlihat mondar-mandir di kerumunan pemain belakang lawan. Tapi seperti yang sudah dijelaskan di atas, bukan tanpa tujuan ia melakukan hal tersebut. Sekali saja ia menemukan celah (ruang) disana, maka gol akan tercipta. Dalam tulisan di https://sport.detik.com/aboutthegame//pandit/d-2255308/thomas-mueller-si-penafsir-ruang, Zen RS menggambarkan seorang "penafsir" lebih dari sekadar "pembaca." Penafsir adalah pembaca yang aktif: apa yang dia baca akan diolah sedemikian rupa dalam semesta kesadarannya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang berfaedah bagi kehidupannya atau kepentingannya sendiri.

19 September 2017, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, saya melihat dari kejauhan penafsir ruang yang lain. Bukan dalam balutan seragam sepakbola, bukan juga di lapangan. Penafsir kali ini terlihat lusuh dan bertelanjang kaki di jalanan beraspal. Dibalik baju kedodoran yang sudah bolong di beberapa bagian, ia aktif mencari ruang-ruang di antara kerumunan mobil yang berhenti sesaat sampai lampu hijau kembali menyala. Dilengkapi dengan atribut bunga mawar, tisu, dan koran yang selalu dibawa-bawa (dijajakan); mereka tahu persis ketika kaca mobil tidak diturunkan berarti mereka harus bergerak mencari ruang yang lainnya. Sama halnya ketika yang terlihat hanyalah lambaian telapak tangan dari balik kaca, tandanya (r)uang yang mereka cari tidak (belum) tersedia disana.

Kurang lebih 20 menit dari lokasi bertemu penafsir pertama, saya kembali bertemu dengan penafsir lain. Kali ini dengan atribut berbeda, wadah berbentuk kotak yang dilengkapi tali dan dikaitkan ke belakang lehernya. Isinya beragam, mulai dari permen, alat tulis, gunting kuku, tissue, lem, jepitan rambut, peniti, rokok, dan lain-lain. Tepat di depan saya mereka mencari ruang sembari melihat wajah-wajah yang kelelahan setelah seharian beraktivitas. Mulai dari supir metromini, supir angkot, ojek online, pengendara motor maupun pengendara mobil. Salah seorang penafsir tersebut meminta saya untuk memajukan motor menyerong ke kiri sedikit supaya ia bisa bergerak lebih leluasa menemukan ruang lain yang sedang ia cari. Ruang yang boleh jadi menawarkan hal yang ia cari-cari.

Ketika Mueller berhenti mencari ruang sesaat setelah peluit panjang wasit dibunyikan, saya tidak berani menerka sampai kapan penafsir-penafsir yang saya lihat tadi berhenti mencari ruang bagi dirinya. Mungkin sampai atributnya banyak dibeli orang, mungkin sampai barang bawaannya habis, mungkin sampai jam 2 dinihari, atau mungkin untuk selamanya. Malam itu saya diingatkan bahwa menjadi seorang raumdeuter dan menafsir ruang bukanlah perkara mudah.

Kamis, 16 Maret 2017

15 Maret yang Masih Menyenangkan untuk Dikenang

Kalau boleh memutar waktu ke belakang, saya pasti memasukan momen bermain bola bersama kalian sebagai salah satu pilihan. Sayangnya hidup berjalan ke depan, hanya kenangan yang bisa diingat dan diceritakan kembali.
 
Bolehlah dulu kita mengingat betapa antusiasnya kita ketika mengikuti kejuaraan di kampus atau di tempat lainnya. Jarak bukan masalah saat itu, yang terpenting kita bisa pulang membawa piala. Beberapa kejuaraan berakhir manis, yang lainnya tidak berjalan sesuai yang kita harapkan. Tapi selalu ada cerita terselip di setiap kejuaraan yang kita ikuti, ada cerita tentang kesialan atau keberuntungan, tentang macetnya jalanan yang memaksa kita kalah WO (walk out), tentang panitia registrasi berparas manis, tentang lawan yang menyulitkan, dan hal-hal lainnya yang masih sering kita ceritakan berulang-ulang setiap kita bertemu. Saya masih ingat kaki-kaki kuat yang kita miliki, juga solidaritas tinggi yang kita tunjukan setiap bermain sebagai sebuah tim.

Tahun-tahun berlalu cukup cepat, banyak yang sudah berubah dan akan terus begitu nantinya. Kita tidak selincah dan sekuat dulu, "udah lewat masanya" acapkali kita pakai sebagai penyangkalan kita. Sebagai sebuah pribadi kita mulai dihadapkan dengan pertandingan yang sesungguhnya. Karier yang mapan dan wanita idaman adalah piala terdekat kita saat ini, kita harus memainkannya sebaik mungkin yang kita bisa. Tidak ada garis out, tidak ada perpanjangan waktu, tidak ada bola, tidak ada pergantian pemain, tidak ada menang kalah dan tidak ada hal-hal lain yang mengingatkan kita akan kejuaraan yang dulu biasa kita ikuti. Satu yang harus kita ingat, mainkanlah pertandingan ini dengan semangat yang sama seperti semangat yang dulu kita tunjukan ketika kita berada di saat-saat tertekan di dalam pertandingan. Saat kita butuh kemenangan, saat kita butuh gol, dan saat kita butuh sebuah keajaiban.

Siapa yang tahu kalau beberapa tahun ke depan kita sudah memegang piala kita masing-masing dengan senyum yang sama seperti senyum kemenangan kita dulu?

Rabu, 14 Desember 2016

Malam Itu di GOR Pakansari

    Saya sangat sadar kalian tidak terlalu  istimewa, boro-boro menawarkan permainan cantik di lapangan, mendapatkan tiket pertandingan kalian saja butuh kesabaran ekstra, keberuntungan, dan hati yang lapang. Tidak jauh beda bukan dengan kebutuhan para tim di liga nasional kita?
Bagi saya, mendapatkan tiket pertandingan semifinal Leg I Pialal AFF 2016 meniadi pelipur lara yang sepadan setelah beberapa pekan yang lalu gagal mendapatkan tiket konser band Coldplay yang ramai diperbincangkan di dunia maya. Setelah 2 hari berturut-turut datang lebih pagi ke kantor demi koneksi internet yang lebih cepat dan stabil, akhirnya saya bisa mendapatkan tiket tersebut.
  Keberuntungan pertama saya peroleh ketika melakukan pembayaran dengan kartu kredit, alih-alih hanya mendapatkan 8 tiket (maksimum pembelian setiap user) saya justru mendapatkan 16 tiket! Entah sistemnya yang error atau memang semesta sedang memihak kepada saya. WOW, 16 tiket! Tak kalah dengan para calo.
   Sabtu sore saya berangkat agak terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan, jam tiga lewat tiga puluh menit saya baru berangkat dari rumah di daerah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Saya berkendara di atas mobil bersama dengan satu teman setelah satu teman yang lainnya terpaksa kami tinggalkan karena dia terlambat. Setelah berkendara hampir 2 jam lamanya akhirnya kami keluar dari pintu tol Sirkuit Sentul, info dari beberapa teman yang sudah sampai lebih dahulu di lokasi mengatakan bahwa jalan masuk ke Stadion Pakansari sudah ditutup. Selain itu lahan parkir kendaraan di area sekitar sangat sulit didapat karena tingginya animo masyarakat yang berdatangan sejak pagi hari membuat rumah warga, mall, bahkan bahu jalan dijadikan tempat parkir dadakan. Merasa kehausan setelah perjalanan yang cukup jauh kami mampir ke Indomart untuk membeli minuman, tak disangka ada lahan kosong disana. Tanpa pikir panjang kami langsung memarkirkan mobil disitu. Keberuntungan kedua.
    Rumor yang beredar ternyata benar, jalan masuk ke stadion cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Dua kilometer lebih kami berdua berjalan sambil setengah berlari ditemani banyak orang disepanjang jalan. Dari kejauhan mereka semua terlihat mirip, berbaju merah dengan lambang  yang khas di dada kiri. Burung Garuda, lambang negara yang sebentar lagi kami perjuangkan. Sampai di pintu masuk area stadion drama dimulai, pintu masuk yang tidak jelas, ketiadaan panitia ataupun papan penunjuk arah bagi suporter yang hendak masuk ke stadion hingga pintu masuk tribun yang hanya dibuka sebagian. Hal ini membuat antrian mengular di pintu masuk tribun walaupun pertandingan sudah berjalan sekitar 15 menit. Kami hanya bisa merayakan gol pertama dari luar setelah teriakan suporter menggema dari dalam. Belakangan saya tahu Hansamu Yama mencetak gol lewat sundulan di menit ke-7.
   Saya masih tersadar malam itu, kalian tidak mempertontonkan permainan cantik di lapangan. Memang dari awal sudah bisa ditebak, jangankan berharap melihat permainan tiki-taka ala Barcelona ataupun pressing ketat ala Liverpool. Melihat operan bola menggelinding sempurna di atas lapangan saja hampir mustahil karena kondisi lapangan yang kurang baik. Tapi bagi saya dan mungkin bagi sebagian suporter lainnya, datang dan menonton langsung timnas Indonesia bermain membuat saya menjadi Indonesia se-Indonesianya. Berteriak, bernyanyi, duduk tenang kemudian melompat, memasang muka kecewa, menaruh tangan di kepala hingga membuat ombak bersama puluhan ribu orang lain dalam balutan baju dengan warna yang sama mengajarkan saya bagaimana menjadi Indonesia. Dukunglah Indonesia dengan segala keterbatasannya yang menjengkelkan, cintailah dia sepenuh hati. Malam itu di GOR Pakansari saya menjadi Indonesia.

Note: Hari sabtu 17 Desember nanti, berteriak dan bernyanyilah sekeras mungkin bagi mereka. Di tribun stadion, di kamar kost, di pinggir jalan, di warung indomie, di ruang keluarga, dan dimana pun kalian berada, jadilah Indonesia walaupun hanya di malam itu.

Rabu, 06 Juli 2016

Peranan-peranan Tak Terduga

        Kata dasar peran disertai dimbuhan -an dalam peranan bisa diartikan sebagai bagian yang dimainkan seorang pemain (dalam film, sandiwara, dan sebagainya). Definisi lainnya ialah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Ketika kita berbicara tentang sebuah peranan, bahasan yang muncul kemudian adalah siapa pemerannya. Pemeran ialah orang yang memerankan sesuatu dalam film, sandiwara, dan sebagainya. Dapat juga diartikan sebagai orang yang menjalankan peranan tertentu dalam suatu peristiwa.
        Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia harus siap memainkan peran sebagai pasangan dari orang yang akan dinikahinya juga bersiap untuk berperan sebagai orangtua. Bagi sang istri, ia akan mengandung (normalnya sekitar 9 bulan), melihat dirinya semakin gemuk dari hari ke hari seiring perkembangan kandungan di dalam perutnya. Ia perlahan-lahan harus menomorduakan penampilannya, meninggalkan celana jeans ketat, hot pants, dress ketat, dan pakaian lainnya yang tidak lazim digunakan seorang wanita ketika sedang mengandung. Setelah itu ia akan melahirkan, berjuang dan bersakitan demi kelahiran sang buah hati ke dunia. Tak lama kemudian istri dan suami akan disibukkan dengan tangisan anaknya di waktu-waktu tidak terduga. Kalau boleh berandai-andai mungkin para orangtua mendambakan fitur snooze pada si anak layaknya sebuah alarm. Berharap ada waktu istirahat lebih ketika mereka masih kelelahan untuk terbangun di pagi buta.
        Di tahun 2009 kita semua familiar dengan acara EMPAT MATA yang dipandu oleh Tukul Arwana sebagai hostnya. Jargon-jargon khasnya tentu masih kita ingat sampai sekarang, dari yang terdengar norak saat pertama kali mendengarnya sampai akhirnya kita bawa dalam candaan sehari-hari. Saya sempat terheran-heran ketika membaca sebuah artikel yang membahas honor (gaji) Tukul di acara talkshow tersebut. Tidak kurang dari 30 juta dia dibayar untuk melawak (dalam beberapa episode kata-kata yang keluar semaunya saja tetap memancing gelak tawa penonton) selama kurang lebih 2 jam. Miris bila saya bandingkan dengan honor kerja saya jika dihitung tiap 2 jam.
        Belakangan saya berpikir kenapa ia bisa dibayar semahal itu karena tak peduli seburuk apapun suasana hatinya dan pikiran di kepalanya saat ia berada di depan laptop andalannya, ia harus membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Sampai menangis dan sakit perut kalau bisa. Sama halnya dengan aktor hollywood yang dibayar mahal untuk memainkan peran tertentu di sebuah film. Watak si tokoh yang diperankannya mungkin berbanding terbalik dengan watak aslinya. Ia yang pendiam harus berteriak-teriak dalam beberapa scene, ia yang urakan harus bersikap kalem layaknya orang paling cool sejagat raya, ia yang jenius harus menjadi orang paling bodoh (jika tidak boleh dibilang idiot). Pasti kita tahu betul bagaimana hebatnya akting seorang aktor/aktris hollywood dalam film-film yang ia bintangi. Semuanya demi satu tujuan, penonton yang menyaksikannya bisa terbawa suasana dan melibatkan emosi saat menonton film tersebut.
        Sebulan ke belakang saya tidak pernah menyangka peran ini akan saya mainkan. Tidak ada tawaran kontrak dari production house ataupun casting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba saja peran ini datang. Semenjak kepulangan papa saya dari rumah sakit pasca serangan stroke, saya merasa peran ini begitu berat. Saya belajar mengenalkannya popok dewasa selama ia bedrest, sama persis ketika ia mengenalkan saya popok bayi ketika masih kecil. Terkadang saya terbangun di pagi buta mendengar ia mengoceh atau mengigau dan berusaha untuk menemaninya sampai tertidur kembali. Paksaan untuk meminum obat dalam jumlah tidak sedikit juga saya lakukan, mirip saat saya berlarian kesana kemari ketika disuruh minum obat olehnya. Tapi sekarang posisinya terbalik. Banyak peranan lainnya yang baru saya mainkan dan pelajari. Tidak seperti Tukul atau artis hollywood yang dibayar mahal setiap memainkan peran, saya justru melakukannya tanpa bayaran. Masih berusaha belajar berbakti kepada orangtua disaat kesempatan ini masih ada dan ditawarkan oleh-Nya. Saya yakin dan percaya pemeran yang baik ialah dia yang bisa memainkan peranannya dalam kondisi sesulit dan setidakterduga apapun.