Sabtu, 23 September 2017

Saya, Mueller, dan Para Penafsir Ruang Lainnya


Thomas Mueller
Thomas Mueller tidak berlari dan menggiring bola secepat dan selincah Messi, posturnya juga tidak sekekar Ronaldo, pun dengan penampilannya yang jauh dari kesan flamboyan atau parlente. Tanpa balutan jersey sepakbola, dirinya lebih mirip mahasiswa semester menengah. Ketika ditanya mengenai cara bermainnya di lapangan, ia menjawab dengan sangat baik. Dalam wawancara dengan wartawan dari Sueddeutsche Zeitung, Andres Burkert, pada Januari 2011 silam, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang raumdeuter. Dalam nomenklatur Jerman, istilah tersebut lazim digunakan di bidang desain interior. Secara harafiah, raumdeuter berarti space interpreter (penafsir ruang), atau kadang juga disebut space investigator (penyelidik ruang). Raumdeuter memang sangat pas disematkan kepada Mueller jika kita melihat gol-gol yang dilesakannya dalam sebuah pertandingan. Alih-alih menciptakan atau mengkreasikan peluang, ia lebih sering terlihat mondar-mandir di kerumunan pemain belakang lawan. Tapi seperti yang sudah dijelaskan di atas, bukan tanpa tujuan ia melakukan hal tersebut. Sekali saja ia menemukan celah (ruang) disana, maka gol akan tercipta. Dalam tulisan di https://sport.detik.com/aboutthegame//pandit/d-2255308/thomas-mueller-si-penafsir-ruang, Zen RS menggambarkan seorang "penafsir" lebih dari sekadar "pembaca." Penafsir adalah pembaca yang aktif: apa yang dia baca akan diolah sedemikian rupa dalam semesta kesadarannya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang berfaedah bagi kehidupannya atau kepentingannya sendiri.

19 September 2017, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, saya melihat dari kejauhan penafsir ruang yang lain. Bukan dalam balutan seragam sepakbola, bukan juga di lapangan. Penafsir kali ini terlihat lusuh dan bertelanjang kaki di jalanan beraspal. Dibalik baju kedodoran yang sudah bolong di beberapa bagian, ia aktif mencari ruang-ruang di antara kerumunan mobil yang berhenti sesaat sampai lampu hijau kembali menyala. Dilengkapi dengan atribut bunga mawar, tisu, dan koran yang selalu dibawa-bawa (dijajakan); mereka tahu persis ketika kaca mobil tidak diturunkan berarti mereka harus bergerak mencari ruang yang lainnya. Sama halnya ketika yang terlihat hanyalah lambaian telapak tangan dari balik kaca, tandanya (r)uang yang mereka cari tidak (belum) tersedia disana.

Kurang lebih 20 menit dari lokasi bertemu penafsir pertama, saya kembali bertemu dengan penafsir lain. Kali ini dengan atribut berbeda, wadah berbentuk kotak yang dilengkapi tali dan dikaitkan ke belakang lehernya. Isinya beragam, mulai dari permen, alat tulis, gunting kuku, tissue, lem, jepitan rambut, peniti, rokok, dan lain-lain. Tepat di depan saya mereka mencari ruang sembari melihat wajah-wajah yang kelelahan setelah seharian beraktivitas. Mulai dari supir metromini, supir angkot, ojek online, pengendara motor maupun pengendara mobil. Salah seorang penafsir tersebut meminta saya untuk memajukan motor menyerong ke kiri sedikit supaya ia bisa bergerak lebih leluasa menemukan ruang lain yang sedang ia cari. Ruang yang boleh jadi menawarkan hal yang ia cari-cari.

Ketika Mueller berhenti mencari ruang sesaat setelah peluit panjang wasit dibunyikan, saya tidak berani menerka sampai kapan penafsir-penafsir yang saya lihat tadi berhenti mencari ruang bagi dirinya. Mungkin sampai atributnya banyak dibeli orang, mungkin sampai barang bawaannya habis, mungkin sampai jam 2 dinihari, atau mungkin untuk selamanya. Malam itu saya diingatkan bahwa menjadi seorang raumdeuter dan menafsir ruang bukanlah perkara mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar