Kalau boleh memutar waktu ke belakang, saya pasti memasukan momen bermain bola bersama kalian sebagai salah satu pilihan. Sayangnya hidup berjalan ke depan, hanya kenangan yang bisa diingat dan diceritakan kembali.
Bolehlah dulu kita mengingat betapa antusiasnya kita ketika mengikuti kejuaraan di kampus atau di tempat lainnya. Jarak bukan masalah saat itu, yang terpenting kita bisa pulang membawa piala. Beberapa kejuaraan berakhir manis, yang lainnya tidak berjalan sesuai yang kita harapkan. Tapi selalu ada cerita terselip di setiap kejuaraan yang kita ikuti, ada cerita tentang kesialan atau keberuntungan, tentang macetnya jalanan yang memaksa kita kalah WO (walk out), tentang panitia registrasi berparas manis, tentang lawan yang menyulitkan, dan hal-hal lainnya yang masih sering kita ceritakan berulang-ulang setiap kita bertemu. Saya masih ingat kaki-kaki kuat yang kita miliki, juga solidaritas tinggi yang kita tunjukan setiap bermain sebagai sebuah tim.
Tahun-tahun berlalu cukup cepat, banyak yang sudah berubah dan akan terus begitu nantinya. Kita tidak selincah dan sekuat dulu, "udah lewat masanya" acapkali kita pakai sebagai penyangkalan kita. Sebagai sebuah pribadi kita mulai dihadapkan dengan pertandingan yang sesungguhnya. Karier yang mapan dan wanita idaman adalah piala terdekat kita saat ini, kita harus memainkannya sebaik mungkin yang kita bisa. Tidak ada garis out, tidak ada perpanjangan waktu, tidak ada bola, tidak ada pergantian pemain, tidak ada menang kalah dan tidak ada hal-hal lain yang mengingatkan kita akan kejuaraan yang dulu biasa kita ikuti. Satu yang harus kita ingat, mainkanlah pertandingan ini dengan semangat yang sama seperti semangat yang dulu kita tunjukan ketika kita berada di saat-saat tertekan di dalam pertandingan. Saat kita butuh kemenangan, saat kita butuh gol, dan saat kita butuh sebuah keajaiban.
Siapa yang tahu kalau beberapa tahun ke depan kita sudah memegang piala kita masing-masing dengan senyum yang sama seperti senyum kemenangan kita dulu?
