Rabu, 14 Desember 2016

Malam Itu di GOR Pakansari

    Saya sangat sadar kalian tidak terlalu  istimewa, boro-boro menawarkan permainan cantik di lapangan, mendapatkan tiket pertandingan kalian saja butuh kesabaran ekstra, keberuntungan, dan hati yang lapang. Tidak jauh beda bukan dengan kebutuhan para tim di liga nasional kita?
Bagi saya, mendapatkan tiket pertandingan semifinal Leg I Pialal AFF 2016 meniadi pelipur lara yang sepadan setelah beberapa pekan yang lalu gagal mendapatkan tiket konser band Coldplay yang ramai diperbincangkan di dunia maya. Setelah 2 hari berturut-turut datang lebih pagi ke kantor demi koneksi internet yang lebih cepat dan stabil, akhirnya saya bisa mendapatkan tiket tersebut.
  Keberuntungan pertama saya peroleh ketika melakukan pembayaran dengan kartu kredit, alih-alih hanya mendapatkan 8 tiket (maksimum pembelian setiap user) saya justru mendapatkan 16 tiket! Entah sistemnya yang error atau memang semesta sedang memihak kepada saya. WOW, 16 tiket! Tak kalah dengan para calo.
   Sabtu sore saya berangkat agak terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan, jam tiga lewat tiga puluh menit saya baru berangkat dari rumah di daerah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Saya berkendara di atas mobil bersama dengan satu teman setelah satu teman yang lainnya terpaksa kami tinggalkan karena dia terlambat. Setelah berkendara hampir 2 jam lamanya akhirnya kami keluar dari pintu tol Sirkuit Sentul, info dari beberapa teman yang sudah sampai lebih dahulu di lokasi mengatakan bahwa jalan masuk ke Stadion Pakansari sudah ditutup. Selain itu lahan parkir kendaraan di area sekitar sangat sulit didapat karena tingginya animo masyarakat yang berdatangan sejak pagi hari membuat rumah warga, mall, bahkan bahu jalan dijadikan tempat parkir dadakan. Merasa kehausan setelah perjalanan yang cukup jauh kami mampir ke Indomart untuk membeli minuman, tak disangka ada lahan kosong disana. Tanpa pikir panjang kami langsung memarkirkan mobil disitu. Keberuntungan kedua.
    Rumor yang beredar ternyata benar, jalan masuk ke stadion cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Dua kilometer lebih kami berdua berjalan sambil setengah berlari ditemani banyak orang disepanjang jalan. Dari kejauhan mereka semua terlihat mirip, berbaju merah dengan lambang  yang khas di dada kiri. Burung Garuda, lambang negara yang sebentar lagi kami perjuangkan. Sampai di pintu masuk area stadion drama dimulai, pintu masuk yang tidak jelas, ketiadaan panitia ataupun papan penunjuk arah bagi suporter yang hendak masuk ke stadion hingga pintu masuk tribun yang hanya dibuka sebagian. Hal ini membuat antrian mengular di pintu masuk tribun walaupun pertandingan sudah berjalan sekitar 15 menit. Kami hanya bisa merayakan gol pertama dari luar setelah teriakan suporter menggema dari dalam. Belakangan saya tahu Hansamu Yama mencetak gol lewat sundulan di menit ke-7.
   Saya masih tersadar malam itu, kalian tidak mempertontonkan permainan cantik di lapangan. Memang dari awal sudah bisa ditebak, jangankan berharap melihat permainan tiki-taka ala Barcelona ataupun pressing ketat ala Liverpool. Melihat operan bola menggelinding sempurna di atas lapangan saja hampir mustahil karena kondisi lapangan yang kurang baik. Tapi bagi saya dan mungkin bagi sebagian suporter lainnya, datang dan menonton langsung timnas Indonesia bermain membuat saya menjadi Indonesia se-Indonesianya. Berteriak, bernyanyi, duduk tenang kemudian melompat, memasang muka kecewa, menaruh tangan di kepala hingga membuat ombak bersama puluhan ribu orang lain dalam balutan baju dengan warna yang sama mengajarkan saya bagaimana menjadi Indonesia. Dukunglah Indonesia dengan segala keterbatasannya yang menjengkelkan, cintailah dia sepenuh hati. Malam itu di GOR Pakansari saya menjadi Indonesia.

Note: Hari sabtu 17 Desember nanti, berteriak dan bernyanyilah sekeras mungkin bagi mereka. Di tribun stadion, di kamar kost, di pinggir jalan, di warung indomie, di ruang keluarga, dan dimana pun kalian berada, jadilah Indonesia walaupun hanya di malam itu.

Rabu, 06 Juli 2016

Peranan-peranan Tak Terduga

        Kata dasar peran disertai dimbuhan -an dalam peranan bisa diartikan sebagai bagian yang dimainkan seorang pemain (dalam film, sandiwara, dan sebagainya). Definisi lainnya ialah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Ketika kita berbicara tentang sebuah peranan, bahasan yang muncul kemudian adalah siapa pemerannya. Pemeran ialah orang yang memerankan sesuatu dalam film, sandiwara, dan sebagainya. Dapat juga diartikan sebagai orang yang menjalankan peranan tertentu dalam suatu peristiwa.
        Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia harus siap memainkan peran sebagai pasangan dari orang yang akan dinikahinya juga bersiap untuk berperan sebagai orangtua. Bagi sang istri, ia akan mengandung (normalnya sekitar 9 bulan), melihat dirinya semakin gemuk dari hari ke hari seiring perkembangan kandungan di dalam perutnya. Ia perlahan-lahan harus menomorduakan penampilannya, meninggalkan celana jeans ketat, hot pants, dress ketat, dan pakaian lainnya yang tidak lazim digunakan seorang wanita ketika sedang mengandung. Setelah itu ia akan melahirkan, berjuang dan bersakitan demi kelahiran sang buah hati ke dunia. Tak lama kemudian istri dan suami akan disibukkan dengan tangisan anaknya di waktu-waktu tidak terduga. Kalau boleh berandai-andai mungkin para orangtua mendambakan fitur snooze pada si anak layaknya sebuah alarm. Berharap ada waktu istirahat lebih ketika mereka masih kelelahan untuk terbangun di pagi buta.
        Di tahun 2009 kita semua familiar dengan acara EMPAT MATA yang dipandu oleh Tukul Arwana sebagai hostnya. Jargon-jargon khasnya tentu masih kita ingat sampai sekarang, dari yang terdengar norak saat pertama kali mendengarnya sampai akhirnya kita bawa dalam candaan sehari-hari. Saya sempat terheran-heran ketika membaca sebuah artikel yang membahas honor (gaji) Tukul di acara talkshow tersebut. Tidak kurang dari 30 juta dia dibayar untuk melawak (dalam beberapa episode kata-kata yang keluar semaunya saja tetap memancing gelak tawa penonton) selama kurang lebih 2 jam. Miris bila saya bandingkan dengan honor kerja saya jika dihitung tiap 2 jam.
        Belakangan saya berpikir kenapa ia bisa dibayar semahal itu karena tak peduli seburuk apapun suasana hatinya dan pikiran di kepalanya saat ia berada di depan laptop andalannya, ia harus membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Sampai menangis dan sakit perut kalau bisa. Sama halnya dengan aktor hollywood yang dibayar mahal untuk memainkan peran tertentu di sebuah film. Watak si tokoh yang diperankannya mungkin berbanding terbalik dengan watak aslinya. Ia yang pendiam harus berteriak-teriak dalam beberapa scene, ia yang urakan harus bersikap kalem layaknya orang paling cool sejagat raya, ia yang jenius harus menjadi orang paling bodoh (jika tidak boleh dibilang idiot). Pasti kita tahu betul bagaimana hebatnya akting seorang aktor/aktris hollywood dalam film-film yang ia bintangi. Semuanya demi satu tujuan, penonton yang menyaksikannya bisa terbawa suasana dan melibatkan emosi saat menonton film tersebut.
        Sebulan ke belakang saya tidak pernah menyangka peran ini akan saya mainkan. Tidak ada tawaran kontrak dari production house ataupun casting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba saja peran ini datang. Semenjak kepulangan papa saya dari rumah sakit pasca serangan stroke, saya merasa peran ini begitu berat. Saya belajar mengenalkannya popok dewasa selama ia bedrest, sama persis ketika ia mengenalkan saya popok bayi ketika masih kecil. Terkadang saya terbangun di pagi buta mendengar ia mengoceh atau mengigau dan berusaha untuk menemaninya sampai tertidur kembali. Paksaan untuk meminum obat dalam jumlah tidak sedikit juga saya lakukan, mirip saat saya berlarian kesana kemari ketika disuruh minum obat olehnya. Tapi sekarang posisinya terbalik. Banyak peranan lainnya yang baru saya mainkan dan pelajari. Tidak seperti Tukul atau artis hollywood yang dibayar mahal setiap memainkan peran, saya justru melakukannya tanpa bayaran. Masih berusaha belajar berbakti kepada orangtua disaat kesempatan ini masih ada dan ditawarkan oleh-Nya. Saya yakin dan percaya pemeran yang baik ialah dia yang bisa memainkan peranannya dalam kondisi sesulit dan setidakterduga apapun.

Kamis, 12 Mei 2016

Sepakbola dan Cara Mereka Mencintainya (2)


"Namaku Zlatan Ibrahimovic
Ke manapun aku pergi, orang-orang pasti mengenaliku
memanggil namaku, mengelu-elukan diriku

Tapi ada banyak nama yang tak pernah dipedulikan orang untuk diingat
Carmen, Rahma, Antoine, Lida, Siatta, Mariko ....

Kalau aku bisa, aku akan menulis semua nama itu di badanku
Tapi saat ini ada 805 juta orang yang menderita karena kelaparan dari seluruh dunia
Begitu banyak dari mereka masih anak-anak
Mereka terkapar oleh peperangan, bencana alam, kemiskinan yang teramat sangat

Aku punya banyak pendukung di kolong jagat raya ini
Mulai hari ini aku menginginkan dukungan ini diperuntukkan kepada mereka yang sangat memerlukannya

Jadi, setiap kali kamu mendengar namaku, kamu akan memikirkan nama-nama mereka
Setiap kali kamu melihatku, kamu akan melihat mereka."



"Di hari Sabtu (14/02/2015) melawan Caen saat aku membuka baju, orang-orang bertanya apa arti tato-tato baruku. Ada 50 tato sementara yang dirajah ke tubuhku. Itu merupakan nama-nama seseorang yang nyata, yang menderita kelaparan di dunia," kata Ibra di laman web situs resmi PSG.
"Saat ini tatonya sudah hilang, tapi orang-orang itu masih ada di luar sana. Total ada 805 juta orang yang menderita kelaparan di penjuru dunia. Aku ingin kalian melihat mereka, melalui diriku, untuk membantu World Food Programme (PBB).
"Inilah kali pertama aku bertindak secara publik dengan sebuah kegiatan amal. Jika kami mampu membuat para pemimpin dunia ikut memperhatikan hal ini, aku yakin bersama-sama kita bisa menuntaskan masalah kelaparan di dunia," tegasnya.


Terlepas dari sikap arogannya di dalam dan di luar lapangan, Ibra masih memiliki sisi humanisnya. 
#Zlatan Ibrahimovic



"Ini menakjubkan. Ada perasaan yang campur aduk. Saya rasa saya akan merindukan Barca lebih daripada Barca akan merindukan saya."
#Xavi Hernandez


Setelah membuat sebuah rekor baru di akhir pekan, kiper Juventus Gianluigi Buffon langsung menorehkan sebuah surat terbuka nan menyentuh. Buat siapa? Kiper veteran berusia 38 tahun tersebut kini tercatat sebagai penjaga gawang dengan clean sheet terpanjang di Serie A. Buffon membukukan rekor itu dalam kemenangan Juve atas Torino pada akhir pekan. Dalam pertandingan tersebut, Buffon resmi mengawal gawangnya tidak kebobolan selama 973 menit yang menjadi rekor baru Serie A melewati 929 menit clean sheet dari Sebastiano Rossi.


Setelah memecahkan rekor tersebut, salah satu yang dilakukan Buffon adalah menuliskan untaian kata bak surat cinta. Ia menujukannya untuk gawang yang selama ini setia ia jaga. Berikut tuturan Buffon seperti dikutip Telegraph:

"Usiaku 12 ketika aku mulai memalingkan wajahku darimu, melupakan masa lalu demi memberimu jaminan di masa depan. Aku sudah bertindak menurut kata hati. Aku telah bertindak dengan naluri. Tapi di hari ketika aku berhenti menatapmu juga menjadi hari aku mulai mencintaimu.

Untuk melindungimu, demi menjadi pelindungmu yang pertama dan terakhir, aku sudah berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi sering-sering melihat wajahmu. Atau aku akan melakukannya sejarang mungkin. Setiap kali melihatmu rasanya menyakitkan; membalikkan tubuhku dan menyadari bahwa aku sudah mengecewakanmu. Lagi. Dan lagi.

Kita selalu berada pada dua titik berbeda tapi kita saling melengkapi, seperti mentari dan rembulan. Terpaksa hidup berdampingan tanpa bisa saling lama-lama bersentuhan. Lebih dari 25 tahun lalu aku sudah membuat ikrar; aku bersumpah melindungimu. Menjagamu. Menjadi perisai dari seluruh musuhmu. Aku selalu memikirkan kepentinganmu, meletakkannya di atas kepentinganku sendiri.

Usiaku 12 ketika aku mulai memunggungi gawang. Dan aku akan terus melakukannya selama kaki, kepala, dan hatiku masih mampu."
#Gianluigi Buffon




Usai mencetak gol, gelandang 23 tahun itu langsung berlari ke arah tribun penonton, melompati pagar pembatas, lalu menaiki anak tangga untuk menuju ke salah satu deretan kursi. Florenzi lantas menghampiri dan memeluk seorang perempuan paruh baya, yang ternyata adalah neneknya. Perempuan 82 tahun itu tampak cukup terharu, apalagi itulah kali pertama ia datang ke stadion.
#Florenzi





Photo by: George Salpigtidis
Chile mengalahkan Australia 3-1. Namun, momen terbaik justru terjadi sebelum laga dimulai. Saat para pemain kedua tim keluar bersama anak-anak maskot dan berbaris untuk mendengarkan lagu kebangsaan, gelandang Australia Mark Bresciano menyadari bahwa sebelah sepatu anak maskotnya tidak terikat. Anak laki-laki itu ditopang dengan tongkat penyangga. Lalu Bresciano membantunya, dia berlutut kemudian mengikatkan tali sepatu anak tersebut.
#Mark Bresciano

"Terima kasih semuanya. Kalian tidak tahu bagaimana emosionalnya saya sekarang ini. Untuk mengatakan Anda semua fantastis tidak cukup. Saya ingin berterima kasih kepada semua yang telah dekat dengan saya setiap saat," kata Zanetti bergelinang air mata seperti dilansir Football Italia.

"Satu-satunya keinginan saya adalah membela dan menghormati jersey Inter di manapun di seluruh dunia ini. Saya belajar untuk menyukainya dan saya meminta Anda untuk mencintai klub ini. Sama seperti saya yang akan mencintai Inter selamanya."

"Saya ingin berterima kasih kepada istri saya Paula dan keluarga saya yang luar biasa. Kami semua bangkit bersama-sama. Ayah saya, yang berada di depan televisi di Argentina sekarang dan tidak ingin datang ke sini."

"Saya berterima kasih kepada ibu saya di Surga yang tentu bahagia karena saya sekarang. Saya berterima kasih kepada keluarga Moratti, yang selama bertahun-tahun ini telah menunjukkan kepercayan kepada saya."

"Saya berterima kasih kepada Presiden Thohir , yang memungkinkan saya untuk terus dalam keluarga Inter. Ini selalu mimpi saya."

"Saya berterima kasih kepada seluruh rekan satu tim saya yang fantastis sepanjang musim yang kami lalui setiap tahun. Merekamenunjukkan begitu banyak rasa hormat dan kasih sayang."

"Saya senang untuk karier yang indah ini memakai jersey ini yang benar-benar saya cintai. Sekarang saya harus melakukan sesuatu yang lain. Saya tidak tahu apakah saya akan melakukannya dengan baik. Tetapi saya bisa mengatakan bahwa saya akan membela Inter, seperti cara saya membelanya di lapangan."

"Terima kasih karena telah mencintaiku. Saya benar-benar mencintai kalian."
 #Javier Zanetti









"Ketika kamu (berbicara tentang pemain MU) pulang ke ibumu, kamu harus memastikan bahwa ibumu bertemu dengan anak yang sama yang ia kirim padaku. Ketenaran dan tenar tak boleh mengubahmu, karena itu akan membuat ibumu kecewa."
#Sir Alex Ferguson

Kamis, 24 Maret 2016

Tentang Anak (lain) yang Hilang

Khotbah pendeta beberapa minggu yang lalu mengingatkan saya akan diskusi malam itu di pelataran gereja. Sebagai umat kristiani kita pasti familiar dengan perumpamaan tentang anak yang hilang. Di malam itu, salah seorang di antara kami berujar, cerita tentang anak yang hilang sebenarnya masih bersambung. Saya yang mengenal cerita itu sejak jaman sekolah minggu dibuat heran dengan pernyataan yang dilontarkannya. Dengan iman dan pemahaman seadanya saya bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari bersambung yang ia maksud.

Saya yang menyimak obrolan mereka dan sesekali ikut "nimbrung" atau "nyeletuk" saat itu mulai mendapatkan pemahaman akan pernyataan tadi. Semua tahu bahwa si bungsu menginginkan harta kekayaan milik ayahnya yang menjadi haknya, lalu ia mendapatkannya dan menjual harta tersebut. Semua tahu pasti bagaimana kelanjutan cerita tersebut, si bungsu pergi ke negeri yang jauh dan menghambur-hamburkan hartanya dengan berfoya-foya. Kelanjutan ceritanya pun saya hapal, bersamaan dengan habisnya harta si bungsu timbul pula bencana kelaparan di negeri itu. Si bungsu melarat.
Dalam kemelaratannya si bungsu bekerja pada seorang majikan, ia bertugas menjaga babi peliharaan milik sang tuan. Saking laparnya, ia berusaha untuk mengisi perutnya dengan ampas pakan babi. Sayangnya tidak ada seorang pun yang memberikannya. Ia mulai merenung dan membandingkan nasibnya saat ini dengan orang upahan ayahnya yang selalu berkecukupan makanan. Kita pun tahu si bungsu akhirnya pulang kembali ke rumahnya dan disambut dengan rangkulan serta ciuman dari sang ayah.

Pemahaman saya sebagai seorang kristen berhenti sampai disitu, anak yang hilang (si bungsu) itu telah kembali.

Saya tidak (atau bahkan belum pernah) memperhatikan dengan seksama cerita tersebut. Dalam Lukas 15: 28-30 dijelaskan bagaimana si sulung marah (kecewa) dengan perlakuan yang diberikan sang ayah terhadap adiknya. Tertulis dengan jelas pada ayat ke-29 dan 30 bagaimana keirian dan kedengkian yang begitu besar tergambar lewat perkataan si sulung.

"Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia."

Ada anak lain yang hilang. Saya tidak pernah sadar bahwa si sulung ternyata menyimpan harapan untuk diperlakukan selayaknya seorang anak yang mengabdi kepada bapanya. Bahkan seekor anak kambing pun tidak ia dapat, lihatlah adiknya yang mendapatkan lembu tambun untuk semua hal yang telah ia lakukan.

Saya malu untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah saya seperti si sulung? Apakah saya menyimpan harapan-harapan sepertinya? Apakah saya akan marah terhadap bapa jika apa yang saya lakukan selama ini tidak mendapatkan balasan yang setimpal?

Saya terlalu munafik untuk tidak tak mengakuinya. Saya selalu berharap hal-hal baik akan datang jika saya berbuat baik, saya ingin semua hal yang saya terima berbanding lurus dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya lupa bahwa memikul salib-Nya tidak pernah menawarkan kenyamanan sama sekali, memikul salib-Nya jauh lebih sering menghadirkan ketidaknyamanan. Namun lewat diskusi malam itu saya disadarkan bahwa memikul salib-Nya menawarkan kekuatan yang begitu besar bagi kita. Kekuatan untuk tetap bersyukur dalam ketidaknyamanan. Bila suatu hari anda mendengar lagi perumpamaan ini, ingatlah tentang anak (lain) yang hilang.

Senin, 04 Januari 2016

Bucket List 2016

Noun: A number of experiences or achievements that a person hopes to have or accomplish during their lifetime.

- 3726mdpl dan/atau 3805mdpl

- 60kg \m/

- SIM A

- Nike Gato II Sepatu Futsal - Black/Total Crimson

- Jogjaaaaa...

- Inter scudetto!! #FORZAINTER

- Sepeda buat CFD, trus foto di Monas

- IGNITE launching

- Makin banyak ketawa, dan makin banyak buat orang lain ketawa

- Jalan2 ke Blok M liat komik bekas

- Ke Brodo

- Buat kliping

- Less alcohol

- Leicester City finish 3 besar EPL, Vardy topskor

- Laptop

- Bangka Belitung??

- Potong rambut skin

- Pembekuan PSSI dicabut FIFA, Liga Nasional bisa jalan lagi secara profesional

- Jersey jadul

- Selfie di taman kota

- Rajin cuci motor

- Menemukan jodoh ❤

- Piala Eropa 2016 disiarin TV lokal, Belgia masuk semifinal

- Update blog

- SD Gundam

- Nangkep tikus yang tiap malem keliaran di dalam rumah

- Akurasi tendangan kaki kanan meningkat

- Beresin LEGO

- Banyak makan sayur

- Dikasih kesempatan, kemampuan finansial, kemampuan, mujizat, dan timing yang pas buat bucket list di atas.



Jakarta, 9 Januari 2016.


Radith