Kamis, 24 Maret 2016

Tentang Anak (lain) yang Hilang

Khotbah pendeta beberapa minggu yang lalu mengingatkan saya akan diskusi malam itu di pelataran gereja. Sebagai umat kristiani kita pasti familiar dengan perumpamaan tentang anak yang hilang. Di malam itu, salah seorang di antara kami berujar, cerita tentang anak yang hilang sebenarnya masih bersambung. Saya yang mengenal cerita itu sejak jaman sekolah minggu dibuat heran dengan pernyataan yang dilontarkannya. Dengan iman dan pemahaman seadanya saya bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari bersambung yang ia maksud.

Saya yang menyimak obrolan mereka dan sesekali ikut "nimbrung" atau "nyeletuk" saat itu mulai mendapatkan pemahaman akan pernyataan tadi. Semua tahu bahwa si bungsu menginginkan harta kekayaan milik ayahnya yang menjadi haknya, lalu ia mendapatkannya dan menjual harta tersebut. Semua tahu pasti bagaimana kelanjutan cerita tersebut, si bungsu pergi ke negeri yang jauh dan menghambur-hamburkan hartanya dengan berfoya-foya. Kelanjutan ceritanya pun saya hapal, bersamaan dengan habisnya harta si bungsu timbul pula bencana kelaparan di negeri itu. Si bungsu melarat.
Dalam kemelaratannya si bungsu bekerja pada seorang majikan, ia bertugas menjaga babi peliharaan milik sang tuan. Saking laparnya, ia berusaha untuk mengisi perutnya dengan ampas pakan babi. Sayangnya tidak ada seorang pun yang memberikannya. Ia mulai merenung dan membandingkan nasibnya saat ini dengan orang upahan ayahnya yang selalu berkecukupan makanan. Kita pun tahu si bungsu akhirnya pulang kembali ke rumahnya dan disambut dengan rangkulan serta ciuman dari sang ayah.

Pemahaman saya sebagai seorang kristen berhenti sampai disitu, anak yang hilang (si bungsu) itu telah kembali.

Saya tidak (atau bahkan belum pernah) memperhatikan dengan seksama cerita tersebut. Dalam Lukas 15: 28-30 dijelaskan bagaimana si sulung marah (kecewa) dengan perlakuan yang diberikan sang ayah terhadap adiknya. Tertulis dengan jelas pada ayat ke-29 dan 30 bagaimana keirian dan kedengkian yang begitu besar tergambar lewat perkataan si sulung.

"Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia."

Ada anak lain yang hilang. Saya tidak pernah sadar bahwa si sulung ternyata menyimpan harapan untuk diperlakukan selayaknya seorang anak yang mengabdi kepada bapanya. Bahkan seekor anak kambing pun tidak ia dapat, lihatlah adiknya yang mendapatkan lembu tambun untuk semua hal yang telah ia lakukan.

Saya malu untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah saya seperti si sulung? Apakah saya menyimpan harapan-harapan sepertinya? Apakah saya akan marah terhadap bapa jika apa yang saya lakukan selama ini tidak mendapatkan balasan yang setimpal?

Saya terlalu munafik untuk tidak tak mengakuinya. Saya selalu berharap hal-hal baik akan datang jika saya berbuat baik, saya ingin semua hal yang saya terima berbanding lurus dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya lupa bahwa memikul salib-Nya tidak pernah menawarkan kenyamanan sama sekali, memikul salib-Nya jauh lebih sering menghadirkan ketidaknyamanan. Namun lewat diskusi malam itu saya disadarkan bahwa memikul salib-Nya menawarkan kekuatan yang begitu besar bagi kita. Kekuatan untuk tetap bersyukur dalam ketidaknyamanan. Bila suatu hari anda mendengar lagi perumpamaan ini, ingatlah tentang anak (lain) yang hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar